3 PR Berat Xabi Alonso di Real Madrid Jelang Musim 2025/2026
Berita.susterslot -Penunjukan Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid disambut antusias oleh publik Santiago Bernabeu. Prestasinya bersama Bayer Leverkusen dan perjalanan Madrid di Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi modal awal yang menjanjikan.
Namun, eks gelandang elegan itu tak bisa berleha-leha. Sejumlah masalah teknis masih menghantui skuad Los Blancos menjelang musim kompetisi 2025/26.
Kendati materi pemain tergolong mentereng, Madrid masih menyisakan sejumlah kelemahan mendasar yang perlu segera dibenahi jika ingin bersaing memperebutkan trofi. Dari lemahnya antisipasi bola mati, kurangnya koneksi antardua bintang di lini depan, hingga krisis keseimbangan di sektor tengah. Jika pelatih berusia 43 tahun itu mampu mengatasi tiga masalah utama di bawah ini, bukan tak mungkin musim debutnya di Bernabeu akan ditandai dengan gelar juara. Namun, jika gagal, tekanan dari suporter dan media akan datang lebih cepat dari yang dibayangkan. Berikut tiga pekerjaan rumah besar Alonso di awal masa kepemimpinannya.
Satu di antara kelemahan paling mencolok Real Madrid musim lalu adalah ketidakmampuan mereka mengawal situasi bola mati, terutama dari tendangan sudut dan tendangan bebas tak langsung. Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Madrid kerap kehilangan konsentrasi dalam duel udara maupun saat menghadapi bola kedua. Beberapa gol krusial yang bersarang ke gawang mereka lahir dari minimnya koordinasi antarbek, serta kelengahan dalam menjaga lawan.
Sebagai pelatih yang dikenal disiplin secara taktik, Alonso dituntut untuk menerapkan sistem pertahanan bola mati yang lebih rapi, dari pola penjagaan, antisipasi, hingga reaksi terhadap bola liar. Jika berhasil memperbaiki sektor ini, Madrid berpeluang besar mengurangi jumlah kebobolan yang seharusnya bisa dihindari.
Duet Kylian Mbappe dan Vinicius Jr. di lini depan seharusnya menjadi mimpi buruk bagi lawan. Namun, kenyataannya, kolaborasi dua winger tajam ini belum berjalan sesuai ekspektasi. Meski menghabiskan lebih dari 3.400 menit bermain bersama musim lalu, statistik menunjukkan minimnya interaksi di antara keduanya. Hanya sekitar 15 persen operan Vinicius yang mengarah ke Mbappe, dan sebaliknya, hanya 13 persen umpan Mbappe yang menuju ke Vinicius. Ini menunjukkan adanya jarak taktis maupun kebiasaan bermain yang belum selaras. Alonso harus mencari formula untuk memperbaiki sinergi mereka, entah lewat rotasi posisi, permainan satu-dua, atau peran yang lebih jelas agar keduanya tak terus-menerus bertumpuk di sisi kiri.
Kepergian Toni Kroos menjadi pukulan besar bagi kestabilan permainan Madrid. Tanpa sang metronom, lini tengah mereka sering kesulitan mengendalikan tempo, terutama saat menghadapi tim dengan pressing ketat. Sepanjang musim lalu, absennya sosok pengatur ritme dan jangkar sejati membuat alur transisi Madrid tak lancar. Hal ini berdampak langsung pada rentannya lini belakang dan sulitnya suplai bola ke lini serang. Kini, dengan Luka Modric juga tak lagi memperkuat tim, Alonso dituntut untuk menemukan keseimbangan baru. Apakah lewat formasi 4-3-3 klasik atau eksperimen 3-4-3 modern, ia perlu meracik komposisi gelandang yang solid, dinamis, dan disiplin.
Nama-nama seperti Eduardo Camavinga, Aurelien Tchouameni, hingga Jude Bellingham punya potensi besar. Namun, tanpa struktur yang jelas, kontribusi mereka bisa mubazir. Alonso harus membangun unit gelandang yang tak hanya mampu menjaga penguasaan bola, tetapi juga melindungi pertahanan dan mengalirkan bola ke depan dengan efisien, sesuatu yang Madrid tak miliki musim lalu.
Kendati materi pemain tergolong mentereng, Madrid masih menyisakan sejumlah kelemahan mendasar yang perlu segera dibenahi jika ingin bersaing memperebutkan trofi. Dari lemahnya antisipasi bola mati, kurangnya koneksi antardua bintang di lini depan, hingga krisis keseimbangan di sektor tengah. Jika pelatih berusia 43 tahun itu mampu mengatasi tiga masalah utama di bawah ini, bukan tak mungkin musim debutnya di Bernabeu akan ditandai dengan gelar juara. Namun, jika gagal, tekanan dari suporter dan media akan datang lebih cepat dari yang dibayangkan. Berikut tiga pekerjaan rumah besar Alonso di awal masa kepemimpinannya.
Satu di antara kelemahan paling mencolok Real Madrid musim lalu adalah ketidakmampuan mereka mengawal situasi bola mati, terutama dari tendangan sudut dan tendangan bebas tak langsung. Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Madrid kerap kehilangan konsentrasi dalam duel udara maupun saat menghadapi bola kedua. Beberapa gol krusial yang bersarang ke gawang mereka lahir dari minimnya koordinasi antarbek, serta kelengahan dalam menjaga lawan.
Sebagai pelatih yang dikenal disiplin secara taktik, Alonso dituntut untuk menerapkan sistem pertahanan bola mati yang lebih rapi, dari pola penjagaan, antisipasi, hingga reaksi terhadap bola liar. Jika berhasil memperbaiki sektor ini, Madrid berpeluang besar mengurangi jumlah kebobolan yang seharusnya bisa dihindari.
Duet Kylian Mbappe dan Vinicius Jr. di lini depan seharusnya menjadi mimpi buruk bagi lawan. Namun, kenyataannya, kolaborasi dua winger tajam ini belum berjalan sesuai ekspektasi. Meski menghabiskan lebih dari 3.400 menit bermain bersama musim lalu, statistik menunjukkan minimnya interaksi di antara keduanya. Hanya sekitar 15 persen operan Vinicius yang mengarah ke Mbappe, dan sebaliknya, hanya 13 persen umpan Mbappe yang menuju ke Vinicius. Ini menunjukkan adanya jarak taktis maupun kebiasaan bermain yang belum selaras. Alonso harus mencari formula untuk memperbaiki sinergi mereka, entah lewat rotasi posisi, permainan satu-dua, atau peran yang lebih jelas agar keduanya tak terus-menerus bertumpuk di sisi kiri.
Kepergian Toni Kroos menjadi pukulan besar bagi kestabilan permainan Madrid. Tanpa sang metronom, lini tengah mereka sering kesulitan mengendalikan tempo, terutama saat menghadapi tim dengan pressing ketat. Sepanjang musim lalu, absennya sosok pengatur ritme dan jangkar sejati membuat alur transisi Madrid tak lancar. Hal ini berdampak langsung pada rentannya lini belakang dan sulitnya suplai bola ke lini serang. Kini, dengan Luka Modric juga tak lagi memperkuat tim, Alonso dituntut untuk menemukan keseimbangan baru. Apakah lewat formasi 4-3-3 klasik atau eksperimen 3-4-3 modern, ia perlu meracik komposisi gelandang yang solid, dinamis, dan disiplin.
Nama-nama seperti Eduardo Camavinga, Aurelien Tchouameni, hingga Jude Bellingham punya potensi besar. Namun, tanpa struktur yang jelas, kontribusi mereka bisa mubazir. Alonso harus membangun unit gelandang yang tak hanya mampu menjaga penguasaan bola, tetapi juga melindungi pertahanan dan mengalirkan bola ke depan dengan efisien, sesuatu yang Madrid tak miliki musim lalu.
0 Komentar